Setelah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan tema 'masa lalu', aku kembali menantang diri *uwiihhh. Kali ini, setelah berbulan-bulan absen mengisi blog, aku mengambil kartu yang bertemakan 'hubungan'.
Jawabanku, aku tipe orang yang kuat menjomlo lama. Aku punya mantan, tapi tak seberapa. Jumlahnya masuk hitungan jari dalam satu tangan. Kalau ditanya kenapa, aku hanya bisa nyengir. Jujur, aku tumbuh di keluarga yang menanamkan ajaran agar anak perempuan menjauhi pacaran. Entah. Orang tuaku mungkin cemas bila anak perempuannya mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD). Berulang kata-kata “jangko pacaran, nak” atau “aja’ muelo maccanring” (artinya, jangan mau pacaran) kudengar. Aku menurut saja. Belum kepikiran untuk menanyakan pantangan tersebut.
Kalau
aku lihat-lihat, perempuan memang kerap mengalami pendisiplinan tubuh *weh
apaan tuh?! Bahasa bayinya sering dilarang-dilarang, diatur-atur, dikendalikan
tindak tanduknya. Biar apaaaa? Biar
patuh hehehe. Karena tubuh perempuan bukan hanya milik perempuan, tapi juga
masyarakat. Btw, ini akan panjang dan bisa jadi satu artikel jika kuteruskan
haha. Kapan-kapan kali yak aku nulis tentang pendisiplinan tubuh ini, eak~
Balik
lagi ke tabu pacaran sebelumnya. Dari situ aku gak punya pengalaman romantis masa
remaja. Apa itu berangkat dan pulang sekolah bareng doi? Apa itu nugas dan
belajar berdua? Apa itu jalan-jalan sore sampai senja tiba sambil bergenggaman
tangan? Semua hanya ada dalam fiksi atau kisah hidup orang lain! ☹
Level
penasaranku terhadap pacaran tuh rendah. Aku bisa tahan baca teenlit yang
isinya cinta-cintaan itu tanpa terpengaruh. Di layar kaca juga bertebaran
film-film remaja dengan tema percintaan yang hampir saban hari kutonton.
Alhamdulillah teteup bisa santuy, guys. Cuma ya nihil pengalaman lapangan
hahaha.
Oh
ya, gak terpengaruh maksudku adalah gak nekat melanggar perintah ortu. Perkara
dar der dor pubertas, wah… itu mana bisa dilawan *nanges. Aku paham kok rasanya
berdebar dan salting bego tiap berpapasan sama cowok yang ditaksir. Kalau makan
kadang mengkhayal tanpa disuruh. Belum lagi pas baca novel, eh, protagonisnya
mirip anak cowok yang kusuka, tolong!
Di
zaman sekolah ada sie cowok yang nembak aku. Tapi dibawa santai. Alias gak ada
niat bermesra-mesraan di depan umum hahaha. Kita berdua aktif lewat SMS karena
dulu hanya itu fitur yang tercanggih. Hape juga belum bisa dibawa ke sekolah.
Alhasil, kami baru bisa bercakap-cakap saat di rumah. Faktanya, hubungan itu
hanya bertahan seminggu. Aku mengakhirinya karena kabar dia sedang naksir cewek
lain.
Aku
bersedih sewaktu putus. Aduh dia ganteng dan bisa ngegombal kalau kita SMS-an
wkwk. Kesan-kesan itu yang tinggal di hati dan membuat nangis.
Ada
juga cowok yang “setengah mati” mengejar-ngejarku ketika SMA. Dia mengaku bahwa
aku perempuan yang kalem, cukup pintar, dan kagum dengan postur tubuhku yang
tinggi. Namun aku bukannya kesengsem, malah melongo. Aku menolaknya, tapi lupa
alasannya. Barangkali, tidak tertarik.
Meski
begitu dia pantang menyerah. Suatu hari, dia sedang di ibu kota dan ngide
membelikan sesuatu. Katanya buat kenang-kenangan. Aku tolak lagi, tapi dia
ngotot hahaha. Mau gak mau aku minta dia nyariin novelnya Tere Liye. Buku itu
diberikan tepat di hari kelulusan. Lengkap dengan kantong Gramedia putih
beserta price tag yang masih menempel hahaha.
Petualangan
asmara yang sesungguhnya baru dimulai ketika aku berkuliah—dan jauh dari ortu. Menjelang
semester akhir, aku berkenalan dengan lelaki dari kampus lain dan memutuskan
jadian. Mengingat masa itu bikin senyum-senyum. Mulanya dia kufollow sehabis
membaca karyanya di media online. Mendapat followback darinya, aku bersuka cita.
Interaksi dimulai ketika dia mengomentari postingan storyku di IG. Gak kebayang
loh bakal diperhatiin. Percakapan berlanjut sampai kami merasa sudah waktunya
beralih ke WhatsApp.
Aku
pernah menyinggung sedikit pengalaman ini di sini. Yep, soal
inferioritas hahaha. Sekarang masih, cuma aku belajar menghadapinya dengan
meningkatkan pergaulan, menggali potensi, dan mendengarkan orang lain. Gak ada
manusia sempurna, guys, maka gak perlu berlarut-larut mencemaskan kekuranganmu.
Durasi kita pacaran gak lama. Seingatku hanya 4 bulan(?) Lalu siapakah di antara kami yang—niat banget—menyudahi ini semua? Hahaha, aku. Selain inferior, aku juga kerap menjadi pihak yang ‘memaksanya’ untuk berubah. Mungkin lantaran pemula, aku merasa berwenang mengendalikan orang lain yang terikat secara emosional denganku. Ckck … astagfirullah, jangan ditiru, guys, gak bener kelakuanku! Masih ada faktor lain, tapi dari POV-ku dua hal itu yang paling menentukan keberlangsungan hubungan kami.
Meski
cuma punya satu mantan (wkwk), aku senang bisa mencicipi pengalaman romantis
itu. Cowok yang naksir belakangan ada sih, tapi (kok) aku gak sreg. Banyak yang
gombal juga dan berakhir teman biasa atau mohon-maaf-gue-gak-kenal-elo hahaha.
Serunya,
aku pernah confess perasaanku dua kali kepada dua cowok berbeda. Nah,
cowok pertama, kita saling kenal. Sedangkan cowok kedua, hasil stalking dan dia
gak kenal aku hahaha. Dua-duanya nolak, tapi aku aman aja. Bagiku urusan diterima
itu bonus. Tujuanku hanya agar mereka tahu. Gak apa, guys. Itung-itung melatih
keberanian dan kejujuran.
Sekarang
aku bertahan sebagai JOMLO. (Mantap kata terakhir caps locked haha). Gak lelah,
bu, sendiri mulu? Enggaaaa dong! Udah terbiasa jadi nyaman aja. Mas Kun loooh
bikin lagu 2025 Masih Asik Sendiri :D (alhamdulillaaahhh!) Lingkungan sosial
gak nuntut gimana-gimana kok buat aku segera menikah atau punya pacar.
Orang-orang gak melempar pandangan aneh kenapa aku di umur segini belum menikah.
Paling digodain semoga besok ketemu jodoh. Entah tapi yaa, kalau sudah 30 apa
masih bisa merasa santai kayak di pantai gini? Hahahaha.
Plis
jangan mengasihani aku ygy. Aku beneran menikmati dan bersyukur dengan
kesendirianku saat ini. Aku punya aku dan itu cukup. 😊
Sebagai penutup, aku mengutip paragraf terakhir dari sebuah artikel di Psychology Today:
"Remember, being single is not a reflection of your worth or success. It’s an opportunity to build a meaningful life for yourself. By investing in your own growth and happiness, you’ll bring more to the table in your future relationships. Embrace this time, make the most of it, and enjoy the journey of self-discovery.”
Semangat
berbenah!





