Bacot Hari Kedua

By titikdua - Januari 02, 2025



Sebenarnya aku udah punya niat mengisi blog ini di pengujung Desember kemarin, tapi (lagi-lagi) prokrastinasi jadi gitu deh. Aku memikirkan dua konsep; pertama, ingin menutup 2024 dengan judul “Sebelum 2024 berakhir…” lalu kedua, membahas tantangan menulis yang bertemakan “Aku Bukan Anak Ratu, Maka Aku Menulis”. Tulisan pertama akan mengurai kegagalan yang kuhadapi selama setahun. Secara spesifik, aku mau ngebacot rasanya gagal setelah lama ga mencoba sesuatu.

Pada tulisan kedua, aku ingin menjelaskan mengapa aku menantang diriku. Aku menyadari, manusia yang lahir butuh waktu hingga mampu berjalan dengan kedua kakinya. Kita semua amatir sebelum mahir. Tanpa latihan, tanpa mulai membiasakan menulis, kemampuanku pun ga bakal berkembang. Ga akan ke mana-mana, di situ-situ aja.

Tarik mundur sedikit, keinginan menulis non-stop 30 hari sudah terbayang sejak September 2024. Jelas banget ya emang aku kangen nulis. Waktu itu mau nulis di laptop aja, ga diposting di blog. Dan begitulah, polanya tetap sama: menunda-nunda.

Aku sempat pula ingin hijrah ke Medium. Betapa banyak cerita keren di Medium! Membaca di sana dijamin membahagiakan. Aku puas menemukan cerita-cerita menarik nan berbobot. Medium is beyond blogging! Cerita yang menginspirasiku untuk kembali ngeblog juga berasal dari situ. Karya terakhir yang kubaca dari Bagus Ramadhan berjudul Menulis Bebas, Solusi Untuk Kamu Mulai Menulis dan Ben Aryandiaz Herawan judulnya My Writing Journey: Sebuah Perjalanan Menjadi Penulis Amatir dari Nol. Kalau kalian penasaran, cekidot aja yak via Medium.

Jika ditelusuri, akar masalah kenapa aku enggan menulis sebab insekyur. Yes, insecure haha. Barangkali, inilah watak poskolonialisme yang tertanam di dalam genku wkwk. Aku tuh kadang sebel juga tiap insekyur atau inferior padahal aku ya aku. Maksudnya, aku kerap inferior melihat karya tulis orang lain. Sementara, aku dan orang lain itu kan sedang tidak berkompetisi dalam gelanggang yang sama ya. Jadi kenapa mesti ciut banget tiap habis baca tulisan si Z padahal aku bisa bikin style sendiri? Lagian kenapa standarku harus orang lain itu sih? Mengapa tidak mencoba dulu dan terbiasa, hingga terbentuk kualitas versi aku? Lahhh jadi bertanya-tanya hahaha.

Well, gara-gara insekyur ama orang lain terpupuk deh keengganan, kemalasan, ketidakdisiplinan, dan kebiasaan buruk lainnya. Plis ya tahun ini aku mau lebih pede dan fokus pada tujuan atau resolusi (serta diterima kerja huhu). Kalau bisa sih dapat predikat very demure, very mindful juga wkwk.

Oh ya, aku udah pernah nulis di media tentang perilaku membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apabila tertarik boleh baca di sini.

Sekian ceritaku di hari kedua. Ketemu lagi besok, byeee.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar