Sebenarnya aku udah punya niat mengisi blog ini di pengujung Desember kemarin, tapi (lagi-lagi) prokrastinasi jadi gitu deh. Aku memikirkan dua konsep; pertama, ingin menutup 2024 dengan judul “Sebelum 2024 berakhir…” lalu kedua, membahas tantangan menulis yang bertemakan “Aku Bukan Anak Ratu, Maka Aku Menulis”. Tulisan pertama akan mengurai kegagalan yang kuhadapi selama setahun. Secara spesifik, aku mau ngebacot rasanya gagal setelah lama ga mencoba sesuatu.
Pada tulisan kedua, aku ingin menjelaskan mengapa aku menantang diriku. Aku menyadari, manusia yang lahir butuh waktu hingga mampu berjalan dengan kedua kakinya. Kita semua amatir sebelum mahir. Tanpa latihan, tanpa mulai membiasakan menulis, kemampuanku pun ga bakal berkembang. Ga akan ke mana-mana, di situ-situ aja.
Tarik mundur
sedikit, keinginan menulis non-stop 30 hari sudah terbayang sejak September
2024. Jelas banget ya emang aku kangen nulis. Waktu itu mau nulis di laptop aja,
ga diposting di blog. Dan begitulah, polanya tetap sama: menunda-nunda.
Aku sempat pula
ingin hijrah ke Medium. Betapa banyak cerita keren di Medium! Membaca di sana
dijamin membahagiakan. Aku puas menemukan cerita-cerita menarik nan berbobot. Medium
is beyond blogging! Cerita yang menginspirasiku untuk kembali ngeblog juga berasal
dari situ. Karya terakhir yang kubaca dari Bagus Ramadhan berjudul Menulis Bebas,
Solusi Untuk Kamu Mulai Menulis dan Ben Aryandiaz Herawan judulnya My
Writing Journey: Sebuah Perjalanan Menjadi Penulis Amatir dari Nol. Kalau
kalian penasaran, cekidot aja yak via Medium.
Jika
ditelusuri, akar masalah kenapa aku enggan menulis sebab insekyur. Yes, insecure
haha. Barangkali, inilah watak poskolonialisme yang tertanam di dalam genku
wkwk. Aku tuh kadang sebel juga tiap insekyur atau inferior padahal aku ya aku.
Maksudnya, aku kerap inferior melihat karya tulis orang lain. Sementara, aku
dan orang lain itu kan sedang tidak berkompetisi dalam gelanggang yang sama ya.
Jadi kenapa mesti ciut banget tiap habis baca tulisan si Z padahal aku bisa
bikin style sendiri? Lagian kenapa standarku harus orang lain itu sih? Mengapa
tidak mencoba dulu dan terbiasa, hingga terbentuk kualitas versi aku? Lahhh jadi
bertanya-tanya hahaha.
Well, gara-gara
insekyur ama orang lain terpupuk deh keengganan, kemalasan, ketidakdisiplinan,
dan kebiasaan buruk lainnya. Plis ya tahun ini aku mau lebih pede dan fokus
pada tujuan atau resolusi (serta diterima kerja huhu). Kalau bisa sih dapat
predikat very demure, very mindful juga wkwk.
Oh ya, aku udah pernah nulis di media tentang perilaku membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Apabila tertarik boleh baca di sini.
Sekian ceritaku di hari kedua. Ketemu lagi besok, byeee.

0 komentar