Menurutku...

By titikdua - Juni 11, 2025

 

Holaaaaaaaa, blogku!

Ckck, subhanallah… tuh kan, aku ninggalin kamu lagi. ☹ Sudah Juni, hujan jatuh nyaris setiap hari—dan aku baru merampungkan catatan kelima. Sumpah istikamah tuh mampus bikin bonyok alias beraaaaaatttt bgt. Kalau ada pil yang bisa bikin manusia tekun persisten, aku mau satu deh.

Anyway, aku punya kartu ngobrol dan tertarik menjawab pertanyaan yang ada. Buat yang pengen punya boleh gaskeun belanja di marketplace. Kartu ini terdiri dari empat tema; hubungan, masa lalu, kehidupan, dan diri sendiri. Sekarang aku mau menjawab pertanyaan dari tema masa lalu. Gambar telah tersedia jadi bisa dibaca bunyinya apa.

Oke. Jawabanku adalaaaahhhh...

Jeng jeng jenggg…

Jadi gini, sebelum memutuskan apakah kamu mau melupakan atau mengingat masa lalu, terlebih dulu kamu perlu menerima dan memaafkannya. Hah, kenapa bisa gitu? Ya, karena menurutku, keputusan melupa atau mengingat itu terlalu simpel. Kita barangkali belum mencerna dengan baik apa yang terjadi di masa itu, lalu kita sudah harus mengambil keputusan melupa atau mengingat.

Ges, gak semua masa lalu itu menyenangkan, ya. Ada juga yang menimbulkan trauma, kesedihan yang berulang, membangkitkan kemurkaan, memantik kekecewaan, banyaklah. Sebagai manusia (yang berpikir), apakah kita begitu saja melupakan atau mengingat pengalaman buruk itu? Apakah dengan kita mengeluhkan kejadian buruk yang menimpa, kita termasuk kurang bersyukur terhadap kehidupan yang berlangsung kini-di sini?

Tidak ada hal yang terlalu remeh untuk dirasakan. Semua valid dan punya makna. Alih-alih memangkas perasaan atas pengalaman itu, mending kita beri ruang agar ia dapat tenang. Kita bukakan pintu dan persilakan masuk. Biarkan ia istirahat selama yang ia mau.

Mari kita beri pelukan pada tubuhnya yang ringkih. Kita dengarkan hati-hati napasnya yang menderu letih. Kita usap air matanya yang memerihkan sekujur kenangan.

Biarkan ia nyaman. Izinkan ia betah. Sebab kehadirannya bukanlah salah. Ia sungguh anugerah. Berkatnya, kita belajar menerima rasa yang tidak melulu manis. Lagipula, hidup bukankah amat membosankan bila hanya dikelilingi oleh kenikmatan?

Proses menerima-memaafkan ini tampak berat sebab kita perlu merawat. Kita tidak bisa mengandalkan cara-cara instan untuk bertahan. Ia membutuhkan dedikasi; energi yang cukup serta keuletan. Semoga kita tidak memilih menyerah. Kendati sulit, bukan berarti tak bisa ditaklukan, bukan?

“Ada kenangan yang tak lekang oleh waktu. Begitu pula dengan pilu. Tidaklah benar jika keduanya dianggap menodai dan menghancurkan segalanya.”

–The White Book, Han Kang

Pengalaman buruk yang seringnya terasa seperti aib—bagaimana pun juga—tidak bisa diubah. Tidak akan pernah bisa kita singkirkan. Dan karena ia tak meminta diperlakukan begitu, maka memang tak perlu.

Kita masih utuh, kawan. Masih banyak hal yang tersisa untuk melanjutkan hidup. Halaman putih yang belum kita warnai menanti gilirannya. Oleh sebab itu, berputus asalah secukupnya, lalu ambil kendali berteman dengan nestapa. Basuh luka itu dengan lembut, kecup dalam-dalam kening yang memuat kepedihan tak berujung itu.

Kita baik-baik saja. Kita mampu melewati semua.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar