Dilarang Baper di Grup Ini!

By titikdua - Januari 10, 2025


Gimana dong?! Aku kan aslinya baperan… 

Seingatku, dua kali aku pernah menemui kata-kata dilarang baper di sini/grup ini! Pertama, di sirkel kecil yang sudah lama kami berteman. Kedua, di sirkel raksasa tempat ibunda dan ayahanda guru kami bergabung. Kebayang ga elo gimana rasanya dikasih tahu begitu? Hahaha, (cukup) syok! Masa manusia dilarang-larang bawa perasaan sedangkan nature (baca: dorongan alami) kita ya perasaan. Kalau berperasaan dilarang, maka hendak kita simpan di mana hati nurani ini?

Kabar baiknya, aku sudah ga berada di kedua sirkel itu lagi. Keduanya membuatku tak kerasan, sehingga aku memutuskan cabut. Kuakui, sulit memisahkan diri dari sebuah sirkel. Perlu pertimbangan serius dan hati yang lapang melepaskan. Beberapa orang justru takut untuk say goodbye dengan dalih mereka tak siap kehilangan atau tak punya teman. Totally fine; whether you leave or stay.

Dulu, aku ga habis pikir, mengapa melibatkan perasaan bisa ‘haram’ di lingkar pertemanan. (Aku sampai ga bisa tidur tenang, haha canda). Untuk di sirkel kecil, kurasa (tuh kan pake rasa), kita kebanyakan bercanda sampai ga sadar kelewatan. Ya, orang-orang pada senang bercanda dan terlarut, sampai akhirnya ga punya sensitivitas akan dampak candaan tersebut. Pas aku ga nyaman, mereka malah negur, “Gak usah baper deh! Kita semua bercanda kok di sini.”  Sudah telan asam, mesti tambah neguk pahit. Bjirrr… kerongkonganku!

Aku perlu menyampaikan pandangan, yeaa pandangan, karena jika tidak akan selamanya menjadi fenomena gunung es wkwk. Tahu kan, fenomena gunung es tuh masalah di permukaan terlihat kecil, sementara yang numpuk di dasar tebal banget.

Bagiku, kata-kata dilarang baper bukan pertanda baik. Itu bisa jadi upaya orang lain untuk mengendalikan pihak yang bertolak belakang dengan kepentingan mereka. Sedihnya, yang terasa saat berada di grup ‘dilarang baper’ adalah aku dikelilingi manusia-manusia yang kurang suportif. Aku merasa tidak aman dan tertekan. Aku tertekan untuk menuruti apa kata mereka, cara mereka berpikir, cara mereka memperlakukan orang lain. Aku kesulitan menjadi diriku apa adanya. Bisa ditebak, aku berakhir lelah dan tersiksa.

Pertemanan kami telah berjalan lama, namun tidak menggaransi kualitas hubungan yang sehat dan menumbuhkan. Orang-orang di sirkel ini senantiasa mengutamakan kelakar dalam berkomunikasi. Aku sudah tak sanggup menyesuaikan diri dengan cara mereka. Selera humor kami ternyata berbeda.

Untungnya, aku memilih lepas dari sana. Kendati pemahamanku terkait boundaries belum seberapa. Aku memilih keselamatan diriku, walau setelah ini, pihak di luar sirkel bakal menanyakan atau menyayangkan pertemanan kami. Jangan kira orang-orang di lingkar itu ga berusaha menahanku. Mereka bersikeras. Keputusanku untuk pergi sudah bulat.

Setiap orang ada sirkelnya dan setiap sirkel punya orangnya. Aku berbesar hati, menganggap kita semua berevolusi. Meski berpisah, semoga kita didekap beribu bahagia dan kebaikan.

Mengutip lirik lagu Nadin Amizah, “Pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan…” selamat menyambut segala mula yang baru, teman!


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar