Jomlo yang Bertahan (dan Bersyukur) Itu Aku

By titikdua - Desember 26, 2025

 


Setelah menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan tema 'masa lalu', aku kembali menantang diri *uwiihhh. Kali ini, setelah berbulan-bulan absen mengisi blog, aku mengambil kartu yang bertemakan 'hubungan'. 

Jawabanku, aku tipe orang yang kuat menjomlo lama. Aku punya mantan, tapi tak seberapa. Jumlahnya masuk hitungan jari dalam satu tangan. Kalau ditanya kenapa, aku hanya bisa nyengir. Jujur, aku tumbuh di keluarga yang menanamkan ajaran agar anak perempuan menjauhi pacaran. Entah. Orang tuaku mungkin cemas bila anak perempuannya mengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD). Berulang kata-kata “jangko pacaran, nak” atau “aja’ muelo maccanring” (artinya, jangan mau pacaran) kudengar. Aku menurut saja. Belum kepikiran untuk menanyakan pantangan tersebut.

Kalau aku lihat-lihat, perempuan memang kerap mengalami pendisiplinan tubuh *weh apaan tuh?! Bahasa bayinya sering dilarang-dilarang, diatur-atur, dikendalikan tindak tanduknya.  Biar apaaaa? Biar patuh hehehe. Karena tubuh perempuan bukan hanya milik perempuan, tapi juga masyarakat. Btw, ini akan panjang dan bisa jadi satu artikel jika kuteruskan haha. Kapan-kapan kali yak aku nulis tentang pendisiplinan tubuh ini, eak~

Balik lagi ke tabu pacaran sebelumnya. Dari situ aku gak punya pengalaman romantis masa remaja. Apa itu berangkat dan pulang sekolah bareng doi? Apa itu nugas dan belajar berdua? Apa itu jalan-jalan sore sampai senja tiba sambil bergenggaman tangan? Semua hanya ada dalam fiksi atau kisah hidup orang lain!

Level penasaranku terhadap pacaran tuh rendah. Aku bisa tahan baca teenlit yang isinya cinta-cintaan itu tanpa terpengaruh. Di layar kaca juga bertebaran film-film remaja dengan tema percintaan yang hampir saban hari kutonton. Alhamdulillah teteup bisa santuy, guys. Cuma ya nihil pengalaman lapangan hahaha.

Oh ya, gak terpengaruh maksudku adalah gak nekat melanggar perintah ortu. Perkara dar der dor pubertas, wah… itu mana bisa dilawan *nanges. Aku paham kok rasanya berdebar dan salting bego tiap berpapasan sama cowok yang ditaksir. Kalau makan kadang mengkhayal tanpa disuruh. Belum lagi pas baca novel, eh, protagonisnya mirip anak cowok yang kusuka, tolong!

Di zaman sekolah ada sie cowok yang nembak aku. Tapi dibawa santai. Alias gak ada niat bermesra-mesraan di depan umum hahaha. Kita berdua aktif lewat SMS karena dulu hanya itu fitur yang tercanggih. Hape juga belum bisa dibawa ke sekolah. Alhasil, kami baru bisa bercakap-cakap saat di rumah. Faktanya, hubungan itu hanya bertahan seminggu. Aku mengakhirinya karena kabar dia sedang naksir cewek lain.

Aku bersedih sewaktu putus. Aduh dia ganteng dan bisa ngegombal kalau kita SMS-an wkwk. Kesan-kesan itu yang tinggal di hati dan membuat nangis.

Ada juga cowok yang “setengah mati” mengejar-ngejarku ketika SMA. Dia mengaku bahwa aku perempuan yang kalem, cukup pintar, dan kagum dengan postur tubuhku yang tinggi. Namun aku bukannya kesengsem, malah melongo. Aku menolaknya, tapi lupa alasannya. Barangkali, tidak tertarik.

Meski begitu dia pantang menyerah. Suatu hari, dia sedang di ibu kota dan ngide membelikan sesuatu. Katanya buat kenang-kenangan. Aku tolak lagi, tapi dia ngotot hahaha. Mau gak mau aku minta dia nyariin novelnya Tere Liye. Buku itu diberikan tepat di hari kelulusan. Lengkap dengan kantong Gramedia putih beserta price tag yang masih menempel hahaha.

Petualangan asmara yang sesungguhnya baru dimulai ketika aku berkuliah—dan jauh dari ortu. Menjelang semester akhir, aku berkenalan dengan lelaki dari kampus lain dan memutuskan jadian. Mengingat masa itu bikin senyum-senyum. Mulanya dia kufollow sehabis membaca karyanya di media online. Mendapat followback darinya, aku bersuka cita. Interaksi dimulai ketika dia mengomentari postingan storyku di IG. Gak kebayang loh bakal diperhatiin. Percakapan berlanjut sampai kami merasa sudah waktunya beralih ke WhatsApp.

Aku pernah menyinggung sedikit pengalaman ini di sini. Yep, soal inferioritas hahaha. Sekarang masih, cuma aku belajar menghadapinya dengan meningkatkan pergaulan, menggali potensi, dan mendengarkan orang lain. Gak ada manusia sempurna, guys, maka gak perlu berlarut-larut mencemaskan kekuranganmu.

Durasi kita pacaran gak lama. Seingatku hanya 4 bulan(?) Lalu siapakah di antara kami yang—niat banget—menyudahi ini semua? Hahaha, aku. Selain inferior, aku juga kerap menjadi pihak yang ‘memaksanya’ untuk berubah. Mungkin lantaran pemula, aku merasa berwenang mengendalikan orang lain yang terikat secara emosional denganku. Ckck … astagfirullah, jangan ditiru, guys, gak bener kelakuanku! Masih ada faktor lain, tapi dari POV-ku dua hal itu yang paling menentukan keberlangsungan hubungan kami.

Meski cuma punya satu mantan (wkwk), aku senang bisa mencicipi pengalaman romantis itu. Cowok yang naksir belakangan ada sih, tapi (kok) aku gak sreg. Banyak yang gombal juga dan berakhir teman biasa atau mohon-maaf-gue-gak-kenal-elo hahaha.

Serunya, aku pernah confess perasaanku dua kali kepada dua cowok berbeda. Nah, cowok pertama, kita saling kenal. Sedangkan cowok kedua, hasil stalking dan dia gak kenal aku hahaha. Dua-duanya nolak, tapi aku aman aja. Bagiku urusan diterima itu bonus. Tujuanku hanya agar mereka tahu. Gak apa, guys. Itung-itung melatih keberanian dan kejujuran.

Sekarang aku bertahan sebagai JOMLO. (Mantap kata terakhir caps locked haha). Gak lelah, bu, sendiri mulu? Enggaaaa dong! Udah terbiasa jadi nyaman aja. Mas Kun loooh bikin lagu 2025 Masih Asik Sendiri :D (alhamdulillaaahhh!) Lingkungan sosial gak nuntut gimana-gimana kok buat aku segera menikah atau punya pacar. Orang-orang gak melempar pandangan aneh kenapa aku di umur segini belum menikah. Paling digodain semoga besok ketemu jodoh. Entah tapi yaa, kalau sudah 30 apa masih bisa merasa santai kayak di pantai gini? Hahahaha.

Plis jangan mengasihani aku ygy. Aku beneran menikmati dan bersyukur dengan kesendirianku saat ini. Aku punya aku dan itu cukup. 😊

Sebagai penutup, aku mengutip paragraf terakhir dari sebuah artikel di Psychology Today:

"Remember, being single is not a reflection of your worth or success. It’s an opportunity to build a meaningful life for yourself. By investing in your own growth and happiness, you’ll bring more to the table in your future relationships. Embrace this time, make the most of it, and enjoy the journey of self-discovery.

Semangat berbenah!


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar