Hari itu salah paham lahir diam-diam, di antara
kita. Dengan cara yang tidak kita pahami jua, ia tumbuh seiring berjalannya
waktu. Entah siapa yang menanam bibit terlebih dulu. Belakangan kita kian
berlomba menyemainya perlahan, di tempat yang nyatanya tandus oleh curiga dan
hasrat untuk menjadi yang paling baik. Betapa salah paham telah membentangkan
jarak dan seolah kita pun lupa tentang apa itu tujuan bersama.
Hari itu salah paham menggagahkan dirinya. Tidak
lagi diam-diam. Kulihat di tegak langkah kaki ini, salah paham menjadi tumpuan.
Di antara ruas jari itu, salah paham mengandung dendam yang siap menerjang
kapan saja. Pada lisan yang kerap menganggap kata-kata bukan sesuatu yang
percuma, salah paham akan bicara. Mungkin lantang, mungkin setengah tidak
tenang.
Segala salah yang kita pahami: telah berhasil
tumbuh, telah kita semai sedemikian banyak. Di antara keakraban yang pernah
erat atau bahkan tak pernah rapat. Jujur dan maafkanlah. Jujurlah pada diri
sendiri, jujurlah pada orang lain. Begitu juga memaafkan. Ketakutan untuk
mengakui adalah bumerang, kapan pun sanggup datang menyerang. Maka demikian,
salah paham kita sudahi. Semestinyalah kita saling rangkul kembali.







