Berhadap-Hadapan dengan Waktu dan Kesempatan

By titikdua - Juli 15, 2018


The only thing that we learn from history is that we never learn from it.
(Sir Bertrand Russel)

Menghadapi kesempatan seperti menggenggam pisau, selalu tentang seperti apa guna yang diaju dan dituju. Kumpulan cemas-tenang kita hari ini lahir dari laku-laku sempat yang kembang kemarin. Bila keliru, amat mudah dua kaki yang tegak tergelincir juga.

Hari ke sekian sehabis Ramadan, disusul Syawal menggenapi dan sekarang... awal Dzulkaidah. Pesan singkat dari surah Al-‘Ashr tahu-tahu datang mengetuk kesadaran, sudah beruntungkah kamu atau makin merugi? Waktu bisa menikam dari arah yang tak dikira-kira. Sementara kita mudah terbunuh karena tak menggenggam waspada.

Pundi-pundi keberhasilan yang diraih orang-orang di luar sana adalah dengan belajar menghargai waktu. Sebegitu hebatnya keberadaan waktu sehingga ia harus dihargai. Senantiasa mawas bahwa waktu melulu berjalan maju dan upaya perbaikan bukan menunggu hari melainkan tiap detik. Maka bangunan alasan untuk tidak membaikkan yang selama ini terus tumpuk dan tinggi akan menjadi sirna dan amat sia-sia.

Disebut masa lalu sebab karakteristik waktu yang tidak pernah mundur, seberapa perih pun kita meminta. Masa sekarang yang paling dapat dijangkau membuat siapa saja tahu bahwa kesempatan itu dijemput sebelum ia benar-benar pergi. Seperti Thomas Alva Edison yang tiba pada kesempatan terakhir untuk menemukan cara terbaik membuat siang lebih panjang dengan lampu pijar. Mencoba agar sesuatu menjadi lebih baik bukan sesuatu yang mahal bahkan sahaja. Dan takut mencoba atau menyerah lebih dulu justru tidak menghasilkan apa-apa.

Hari esok bukan milik kita. Beruntunglah jika hari ini ada hal bermanfaat yang tanam sehingga suatu saat akan utuh dikenang oleh siapa saja. Benar kata-kata Hasan al-Bashri, “Dunia ini hanya memiliki tiga hari: hari kemarin, ia telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Hari esok, kamu mungkin tak akan pernah menemuinya. Hari ini, itulah yang kamu miliki, maka beramallah di hari ini.”


Hidup dengan segenap pengetahuan di dalamnya semoga sebaik-baiknya mengajari; menjadi tempaan kuat sekaligus memberi pelukan hangat, memberi warna tidak hanya hitam dan putih, pahit pekat pun ranum manis. Semoga.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar