The only thing that we learn from history is that we never learn from it.
(Sir
Bertrand Russel)
Menghadapi
kesempatan seperti menggenggam pisau, selalu tentang seperti apa guna yang
diaju dan dituju. Kumpulan cemas-tenang kita hari ini lahir dari laku-laku
sempat yang kembang kemarin. Bila keliru, amat mudah dua kaki yang tegak
tergelincir juga.
Hari
ke sekian sehabis Ramadan, disusul Syawal menggenapi dan sekarang... awal
Dzulkaidah. Pesan singkat dari surah Al-‘Ashr tahu-tahu datang mengetuk
kesadaran, sudah beruntungkah kamu atau makin merugi? Waktu bisa menikam
dari arah yang tak dikira-kira. Sementara kita mudah terbunuh karena tak
menggenggam waspada.
Pundi-pundi
keberhasilan yang diraih orang-orang di luar sana adalah dengan belajar
menghargai waktu. Sebegitu hebatnya keberadaan waktu sehingga ia harus
dihargai. Senantiasa mawas bahwa waktu melulu berjalan maju dan upaya perbaikan
bukan menunggu hari melainkan tiap detik. Maka bangunan alasan untuk tidak
membaikkan yang selama ini terus tumpuk dan tinggi akan menjadi sirna dan amat
sia-sia.
Disebut
masa lalu sebab karakteristik waktu yang tidak pernah mundur, seberapa perih
pun kita meminta. Masa sekarang yang paling dapat dijangkau membuat siapa saja
tahu bahwa kesempatan itu dijemput sebelum ia benar-benar pergi. Seperti Thomas
Alva Edison yang tiba pada kesempatan terakhir untuk menemukan cara terbaik
membuat siang lebih panjang dengan lampu pijar. Mencoba agar sesuatu menjadi
lebih baik bukan sesuatu yang mahal bahkan sahaja. Dan takut mencoba atau
menyerah lebih dulu justru tidak menghasilkan apa-apa.
Hari
esok bukan milik kita. Beruntunglah jika hari ini ada hal bermanfaat yang tanam
sehingga suatu saat akan utuh dikenang oleh siapa saja. Benar kata-kata Hasan
al-Bashri, “Dunia ini hanya memiliki tiga hari: hari kemarin, ia telah pergi
bersama dengan semua yang menyertainya. Hari esok, kamu mungkin tak akan pernah
menemuinya. Hari ini, itulah yang kamu miliki, maka beramallah di hari ini.”
Hidup
dengan segenap pengetahuan di dalamnya semoga sebaik-baiknya mengajari; menjadi
tempaan kuat sekaligus memberi pelukan hangat, memberi warna tidak hanya hitam
dan putih, pahit pekat pun ranum manis. Semoga.

0 komentar