Membaca Diri yang Koyak

By titikdua - Mei 31, 2018


So many books, so little time.
– Frank Zappa

Saya kaget mendapati hari lahir yang tahu-tahu sudah lewat berikut jumlah bacaan yang hanya bisa dihisab jari. Belum lagi kelalaian-kelalaian yang berhasil lolos dalam singkat hembus napas, sekedipan mata, dalam waktu-waktu yang lari. Agenda-agenda perbaikan yang entah bagaimana digagalkan wujudnya atau dilupa begitu saja. Harapan yang mulai kembang, namun nihil usaha menyiram.

Menjadi primadona di semesta sendiri memang melelahkan. Kepala yang ribut oleh bermacam keinginan bukannya menyelamatkan justru perlahan membunuh, mencipta keruh dan gaduh. Alih-alih bergiat dan fokus, alternatif untuk leyeh-leyeh kian menggoda. Buku-buku jadi tak tersentuh, kedangkalan terus bertumbuh. Sementara ganjaran agung dari firman tentang berubahnya nasib suatu kaum berdasar pada pembenahan diri mereka sendiri, diam-diam menjauhi ingatan. Lambat laun tertinggal di belakang.

Setiap tahun sejak dua tahun lalu, saya mulai menargetkan bacaan yang mesti tuntas sebelum pergantian tahun terjadi. Makin banyak tentu makin bagus. Tetapi yang bagus belum tentu baik. Maka dari sekian bacaan yang dilahap, setidaknya ada satu dua yang berhasil diulas. Saya membatin: tidak mesti dengan gagasan sepenuh cerap, cukup dengan kesederhanaan kata yang membuat kamu mafhum akan pelik hidup dan cara meredam kalut.

Entah kenapa makin akhir semester, tugas kuliah pun membludak. Sehingga “the power of kepepet” sungguh lekat pada kebiasaan. Rasa-rasa ingin mundur dan berhenti sampai di sini—titik!—kadang timbul kala lelah. Begitu enteng saya ingin menyerah lalu ringkuk di balik tameng plegmatis. Bukannya bercermin dan menelisik kegersangan macam apa yang tengah bibit dan jalar. Saya malah memilih menutup mata dan diri sekali lagi, kembali berkubang dalam mimpi.

Membahas tentang prokrastinasi ini mengingatkan saya pada sebuah kutipan drama sederhana di acara jurusan pendidikan bahasa Arab yang lontar oleh teman.
Fulanah: “Kalo menunda setor hapalan (al-Qur’an), berarti menunda wisuda. Nah, menunda wisuda itu sama dengan menunda menikah.”
Fulan: “Hahaha, betul tawwa.”

Melihat banyaknya teman berlomba-lomba mengajukan judul skripsi, ada secuil jengah dan bayangan akan bencana yang sesungguhnya. Saya membayangkan bencana skripsi yang ditulis Wawan Kurn dalam blognya, sumber bencana itu lahir dari mahasiswa yang memang tak memiliki persiapan matang dan hanya mengerjakan skripsi sekadar mencoba lulus dan mendapat gelar sarjana. Maka ketimbang terburu-buru atau coba-coba lulus, saya berusaha menabah-kuatkan diri. Meski kadang nanar sendiri menyaksikan pencapaian orang lain ketika mengikuti seminar proposal, meski kadang bergidik sendiri mendengar pertanyaan: adami judulmu?, sementara seolah-olah saya hanya terus-terusan berlari di treadmill. Tentu ini hanya ketakutan dan kelemahan saya yang lain.


Sedemikian koyak diri ini, bagaimana mungkin berkata bahwa sedang baik-baik saja, sedang untuk mengevaluasi untuk kemudian membenahinya saja tak berani?

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar