Perkenankan saya memulai ulasan ini dengan bertanya,
“Kapan kali pertama kamu merasa sesuatu dalam dirimu terbakar?”
Adalah Rio, seorang putra tunggal pasangan atlet
maraton yang selama 28 tahun kehilangan motivasi intrinsiknya dalam menjalani
hidup. Sejak kecil, Rio jumpalitan dalam mengikuti bermacam-macam kegiatan
ekstrakurikuler. Sang ibu dengan sepenuh hati menanggung biaya bagi tumbuh
kembang sang anak. Namun Tio sebagai ayah, justru terpaksa mengusir Rio dari
rumah. Pijakan kaki sang anak makin goyah, arah langkahnya tak menentu.
Rio menelan dan menaruh kecewa yang dalam pada
dirinya sendiri. Terlebih sebab tak pernah menyelesaikan sesuatu yang sudah ia
mulai.
Sudah lama saya tidak membaca novel dengan klimaks
yang disajikan di bagian awal cerita itu sendiri. Tema tentang self
improvement yang ditawarkan sangat cocok bagi mereka yang rentan hilang
rasa percaya dirinya (seperti saya, ups!). Hal ini memantik rasa penasaran
pembaca dan tentu menjadi nilai tambah buat penulis. Kepiawaian Mbak Ninit dalam
memilin alur maju mundur membuat saya ketagihan pun tidak lupa menikmati sajian
guyonan yang “gue banget” di dalamnya.
Ada pula Annisa dengan segenap pesonanya sebagai
perempuan. Berharap akan menemukan seorang yang tepat, “Cowok itu cowok
banget ketika dia tahu kelebihan dia apa dan pede dengan kelebihannya, tapi gak
sombong. Tapi dia juga tahu kekurangan dia apa dan dia humble karena itu.”
(hal. 64)
Kisah ini tak kalah menarik saat Rio berhasil “merasa
terbakar” untuk kali pertama dalam hidupnya. Setelah sekian lama dan Rio
berjanji akan membayar tiap kealpaan itu. Ya, dengan berlari, meski terlambat
untuk memulai. Like he steps up his game and in the end it’s awesome.
Ini yang Tio ingin lihat. Bukan
kesuksesan anak, melainkan semangat anak untuk mencapai kesuksesan.
(hal. 116)
Almost forget, novel
tahun 2014 ini (ternyata) sudah difilmkan. Kamu mau baca atau nonton, terserah
saja.
Mari lari, sependek apapun jarak tempuh. Jangan
melulu berdiam diri, cayooo!

0 komentar