Satu dua duka tandang sebentar untuk kemudian luruh, sebagian atau
sepenuhnya. Kita menggamit lengannya dengan senyum, sebelum atau setelahnya.
Pernah. Sekali. Saya begitu takut menghentikan air mata yang
jatuh membasuh kealpaan yang lalu. Tenang saja ia tumpah bersama gemuruh
di dada. Dan alangkah kerdil diri ini. Di mana keangkuhan sembunyi waktu
itu?
Ah, dalam goyahnya kemudi diri kadang kita masih mencari suara
paling riuh di kota. Sementara hening mendesak paksa keluar setelah kesedihan
serapat-rapatnya dikunci.

0 komentar