Mengunci Kesedihan

By titikdua - Mei 07, 2018


Satu dua duka tandang sebentar untuk kemudian luruh, sebagian atau sepenuhnya. Kita menggamit lengannya dengan senyum, sebelum atau setelahnya.

Pernah. Sekali. Saya begitu takut menghentikan air mata yang jatuh membasuh kealpaan yang lalu. Tenang saja ia tumpah bersama gemuruh di dada. Dan alangkah kerdil diri ini. Di mana keangkuhan sembunyi waktu itu?

Ah, dalam goyahnya kemudi diri kadang kita masih mencari suara paling riuh di kota. Sementara hening mendesak paksa keluar setelah kesedihan serapat-rapatnya dikunci.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar