Patah Hati Ugal-ugalan, padahal (Sebatas) Mengagumi Diam-diam

By titikdua - Januari 02, 2026

 


kukira hatiku cukup lapang menerima jika sewaktu-waktu kamu memilih seseorang sebagai kekasih. tujuan kalian sudah pasti; menghabiskan sisa usia berdua. merawat setia. meresapi getar yang melesakkan hangat.

kalian benci dengan jarak, kan? terkutuklah ia bagi jiwa yang senantiasa ingin berpagut.

aku termangu menatap satu gambar yang kamu posting. beberapa hari lalu, satu badai sempat buatku cemas. dan kusangka semua kan baik-baik saja setelah reda. rupanya hatimu telah memilih. bahkan jauh sebelum aku menatap diriku percaya bisa menggapaimu.

kamu tak bersalah. aku hanya meratapi usahaku yang senyap untuk menyamakan langkah. aku hanya teriris oleh angan yang kubisikkan tiap malam sebelum aku lelap dan berharap menemuimu dalam mimpi. hatiku remuk walau kagum ini kau tak pernah tahu.

lalu aku takut dan bingung; bagaimana aku bisa bertahan melepasmu? tiga perempat hatiku isinya cuma kamu. segala tentangmu tumbuh rimbun dan mengalir di darahku. sungguh. ruang untukmu kusediakan sebesar itu. jangan tanya kenapa. aku senang memberi. kupastikan kamu terpenuhi di sini.

bisakah kamu menatap ke arahku sebentar? air mataku berhamburan. maukah kamu mengusapnya untuk pertama dan terakhir kalinya? aku... aku… tak ada niat berjumpa di saat seperti sekarang. aku malu, namun tak ada lagi waktu. rantai perasaan ini akan kupangkas tanpa sisa. bolehkah kuminta pendapatmu, keping-keping itu perlukah kusingkirkan atau baiknya kubawa sebagai kenangan yang baru?

entah kapan perih hatiku mengering. seperti yang biasa kulakukan, semangatku sekadar memutar lagu patah hati, demi menjauhi sepi. melodi adalah teman yang memvalidasi sakitku.

aku tak mau membagikan ini kepada siapa-siapa. menurut mereka bisa jadi sesuatu yang sangat konyol. aku mengalami patah hati ugal-ugalan, padahal (sebatas) mengagumi kamu diam-diam. menjadi dewasa, mungkin, mesti pandai-pandai menyimpan apa-apa sendiri. jadilah ini sebuah rahasia perasaan. cukuplah begitu.

kutulis semua bersama sesak di dada. sebentar lagi aku hanyut dan tertidur dalam asin arus air mata.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar