Gimana dong?! Aku kan aslinya baperan… ☹
Seingatku, dua kali aku pernah menemui kata-kata dilarang baper di sini/grup ini! Pertama, di sirkel kecil yang sudah lama kami berteman. Kedua, di sirkel raksasa tempat ibunda dan ayahanda guru kami bergabung. Kebayang ga elo gimana rasanya dikasih tahu begitu? Hahaha, (cukup) syok! Masa manusia dilarang-larang bawa perasaan sedangkan nature (baca: dorongan alami) kita ya perasaan. Kalau berperasaan dilarang, maka hendak kita simpan di mana hati nurani ini?
Kabar baiknya, aku sudah ga berada di kedua sirkel itu lagi. Keduanya membuatku tak kerasan, sehingga aku memutuskan cabut. Kuakui, sulit memisahkan diri dari sebuah sirkel. Perlu pertimbangan serius dan hati yang lapang melepaskan. Beberapa orang justru takut untuk say goodbye dengan dalih mereka tak siap kehilangan atau tak punya teman. Totally fine; whether you leave or stay.
Dulu,
aku ga habis pikir, mengapa melibatkan perasaan bisa ‘haram’ di lingkar
pertemanan. (Aku sampai ga bisa tidur tenang, haha canda). Untuk di sirkel
kecil, kurasa (tuh kan pake rasa), kita kebanyakan bercanda sampai ga sadar
kelewatan. Ya, orang-orang pada senang bercanda dan terlarut, sampai akhirnya
ga punya sensitivitas akan dampak candaan tersebut. Pas aku ga nyaman, mereka
malah negur, “Gak usah baper deh! Kita semua bercanda kok di sini.” Sudah telan asam, mesti tambah neguk pahit.
Bjirrr… kerongkonganku!
Aku
perlu menyampaikan pandangan, yeaa pandangan, karena jika tidak akan selamanya menjadi
fenomena gunung es wkwk. Tahu kan, fenomena gunung es tuh masalah di
permukaan terlihat kecil, sementara yang numpuk di dasar tebal banget.
Bagiku,
kata-kata dilarang baper bukan pertanda baik. Itu bisa jadi upaya orang lain
untuk mengendalikan pihak yang bertolak belakang dengan kepentingan mereka. Sedihnya,
yang terasa saat berada di grup ‘dilarang baper’ adalah aku dikelilingi manusia-manusia
yang kurang suportif. Aku merasa tidak aman dan tertekan. Aku tertekan untuk
menuruti apa kata mereka, cara mereka berpikir, cara mereka memperlakukan orang
lain. Aku kesulitan menjadi diriku apa adanya. Bisa ditebak, aku berakhir lelah
dan tersiksa.
Pertemanan
kami telah berjalan lama, namun tidak menggaransi kualitas hubungan yang sehat
dan menumbuhkan. Orang-orang di sirkel ini senantiasa mengutamakan kelakar
dalam berkomunikasi. Aku sudah tak sanggup menyesuaikan diri dengan cara mereka. Selera humor kami ternyata berbeda.
Untungnya,
aku memilih lepas dari sana. Kendati pemahamanku terkait boundaries
belum seberapa. Aku memilih keselamatan diriku, walau setelah ini, pihak di
luar sirkel bakal menanyakan atau menyayangkan pertemanan kami. Jangan kira orang-orang
di lingkar itu ga berusaha menahanku. Mereka bersikeras. Keputusanku untuk pergi sudah
bulat.
Setiap
orang ada sirkelnya dan setiap sirkel punya orangnya. Aku berbesar
hati, menganggap kita semua berevolusi. Meski berpisah, semoga kita didekap beribu
bahagia dan kebaikan.
Mengutip lirik lagu Nadin Amizah, “Pada akhirnya ini semua hanyalah permulaan…” selamat menyambut segala mula yang baru, teman!



