Mengenang Diri yang Pernah Jatuh dan Patah

By titikdua - Desember 30, 2019

Kukatakan padamu sedari awal bahwa sebaiknya relasi ini tak perlu kita namai apa-apa—selain tetap pada 'teman' saja. Semringah di wajahku memang tak pernah mampu aku tutupi lagi sejak kutahu bahwa fitrah cinta itu kau sampaikan. Betapa pun aku kesulitan mencermati. Kau kupersilakan jua dan di detik demi detik ke depan, tidak akan sama seperti sebelumku lagi.

Aku beberapa kali kebingungan tentang bagaimana menjelaskan diri ini. Aku yang jauh dari meneladani manusia terpuji adalah juga yang setengah mati melindungi luka masa lalu. Kau barangkali bersedia memaafkan seluruhku yang pernah. Tapi aku yang belum menemukan cara menggugurkan dendam, sangat membenci segala sesuatu di masa itu. Termasuk diriku sendiri.

Sejauh ini kusaksikan kau bertahan. Jika kita adalah pantai, gelombang yang sampai di tepi kaki mungkin belum seberapa tinggi. Kita masih mampu berdiri bahkan berkejaran dan menikmati embusan angin yang membuat rambut panjangku turut menari. Di tahap ini, diam-diam kita berdoa agar seterusnya demikian. Kenyamanan itu andai bisa digenggam, maka kaupastikan ia takkan pernah lepas barang sejenak pun.

Kini, masa depan yang misterius bagiku itu sampai di hadapan. Gelombang yang tadi ramah, berubah menyapu tiap bekas tapak kaki kita kala berlarian. Hujan turun di mana-mana, menghapus semua bayangan kau yang penuh sukacita dan aku yang tak bisa berhenti tersenyum. Asin air mata menambah perih luka yang entah kapan akan sembuh.

Sehabis tinggi gelombang yang mencipta porak-perik di semesta kita. Hidup yang kautegaskan dulu niscaya berlanjut. Aku ingin menghadapimu tetap sebagai teman dan tentu bukan lawan. Namun kau boleh jadi mengutukku sebagai yang paling menyakitimu, sehingga kaumemilih untuk angkat kaki sejauh-jauhnya. Kusadari bahwa rindu untuk memangkas jarak telah kehilangan makna. Tapi aku tetap mencari kabar tentangmu. Melewati tempat-tempat di kota yang pernah jadi saksi sunyi kita. Dan terakhir, menghargaimu sebagai seseorang yang penuh dengan memorabilia...

di sepanjang ingatanku.


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar