: Sebuah
Curhat di Tengah Naik-Turunnya Mood
Saya
termasuk orang dengan tipikal otak kiri. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa orang
ini identik dengan kemampuan berhitung, pengolahan bahasa, dan berpikir secara
logis. Meski kadar
dominan otak kiri dan otak kanan saya belum diketahui secara pasti. Namun hal
yang mesti disesali justru ketika saya tidak mampu mengoptimalkan kerja otak
saya sendiri.
Dua
belas tahun lamanya menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar hingga
menengah atas. Sekarang di usia kepala dua menjalani pendidikan di sebuah
universitas. Rasa-rasanya justru tidak menjamin diri ini untuk menyentuh konsep
masa depan yang cerah. Sistem pendidikan yang menuntut banyak hal dan jurusan
yang dipilih alih-alih linear membuat saya turut mengalami quarter life crisis.
Periode krisis emosional ini rata-rata dialami oleh orang dengan usia seperti
saya. Kesulitan menentukan apa yang tepat di antara banyaknya pilihan merupakan
salah satu contoh pemicu nelangsa. Saya membayangkan betapa mengerikan menjadi
dewasa. Di sisi lain, kebijakan dalam penentuan pilihan terus saja menghantui:
inikah yang tepat? Mestikah kukorbankan yang lain itu?
Saya
yang sepanjang dua belas tahun sekolah tergolong jarang bertanya, saat ini
merasa begitu bodoh mengapa dulu tidak aktif bertanya. Saya yang menyerap
mentah-mentah matematika, hingga sekarang toh masih latah saja berhitung dengan
jari. Saya yang malas membaca apalagi menulis, berharap menjadi editor di
sebuah penerbitan. Saya yang sejauh ini merantau namun kemampuan akademik di
jurusan yang saya jalani, masih saja seumur jagung. Saya yang lembek padahal
mampu setegar karang. Saya yang gagal dalam berorganisasi. Saya yang
masih saja buruk dalam mengatur waktu. Saya yang ketika bercermin selalu lupa menata hati. Saya
yang konsumtif dan apati pada keadaan alam yang penuh cemar. Saya yang sadar
perlunya bertanya kini, menemui jalan yang tak lagi lurus seperti ketika diam
saja dahulu. Saya yang terus terbentur sambil bertanya-tanya kapan ‘kan
terbentuk.
Seperti
judul tulisan ini, kuperingatkan pada diriku untuk tidak mundur ketika
terbentur. Tidak mengapa jalan di tempat atau singgah sebentar beristirahat
jika lelah. Bertahanlah meski sendiri. Kau percaya kau hanya punya teman di
luar sana, bukan sahabat. Sebab beberapa letih yang lalu kau lalui, tetap saja
kau hapus air mata itu dengan punggung tangan sendiri. Tidak ada genggaman
tangan orang lain atau peluk sesiapa di sana. Bahkan bayangan diri kala gelap
menghampiri pun, hilang tak teraba. Benar, benar kata seorang Adimas Immanuel, “Toh
sebanyak apa pun temanmu, semewah apa pun tafsiranmu, hidup akan selalu soal
perayaan jatuh bangkit seorang diri.”
0 komentar