(Menjadi) Dewasa Itu Tidak Mundur Ketika Terbentur

By titikdua - Juli 30, 2019

Sebuah Curhat di Tengah Naik-Turunnya Mood


Saya termasuk orang dengan tipikal otak kiri. Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa orang ini identik dengan kemampuan berhitung, pengolahan bahasa, dan berpikir secara logis. Meski kadar dominan otak kiri dan otak kanan saya belum diketahui secara pasti. Namun hal yang mesti disesali justru ketika saya tidak mampu mengoptimalkan kerja otak saya sendiri.

Dua belas tahun lamanya menempuh pendidikan di jenjang sekolah dasar hingga menengah atas. Sekarang di usia kepala dua menjalani pendidikan di sebuah universitas. Rasa-rasanya justru tidak menjamin diri ini untuk menyentuh konsep masa depan yang cerah. Sistem pendidikan yang menuntut banyak hal dan jurusan yang dipilih alih-alih linear membuat saya turut mengalami quarter life crisis. Periode krisis emosional ini rata-rata dialami oleh orang dengan usia seperti saya. Kesulitan menentukan apa yang tepat di antara banyaknya pilihan merupakan salah satu contoh pemicu nelangsa. Saya membayangkan betapa mengerikan menjadi dewasa. Di sisi lain, kebijakan dalam penentuan pilihan terus saja menghantui: inikah yang tepat? Mestikah kukorbankan yang lain itu?

Saya yang sepanjang dua belas tahun sekolah tergolong jarang bertanya, saat ini merasa begitu bodoh mengapa dulu tidak aktif bertanya. Saya yang menyerap mentah-mentah matematika, hingga sekarang toh masih latah saja berhitung dengan jari. Saya yang malas membaca apalagi menulis, berharap menjadi editor di sebuah penerbitan. Saya yang sejauh ini merantau namun kemampuan akademik di jurusan yang saya jalani, masih saja seumur jagung. Saya yang lembek padahal mampu setegar karang. Saya yang gagal dalam berorganisasi. Saya yang masih saja buruk dalam mengatur waktu. Saya yang ketika bercermin selalu lupa menata hati. Saya yang konsumtif dan apati pada keadaan alam yang penuh cemar. Saya yang sadar perlunya bertanya kini, menemui jalan yang tak lagi lurus seperti ketika diam saja dahulu. Saya yang terus terbentur sambil bertanya-tanya kapan ‘kan terbentuk.

Seperti judul tulisan ini, kuperingatkan pada diriku untuk tidak mundur ketika terbentur. Tidak mengapa jalan di tempat atau singgah sebentar beristirahat jika lelah. Bertahanlah meski sendiri. Kau percaya kau hanya punya teman di luar sana, bukan sahabat. Sebab beberapa letih yang lalu kau lalui, tetap saja kau hapus air mata itu dengan punggung tangan sendiri. Tidak ada genggaman tangan orang lain atau peluk sesiapa di sana. Bahkan bayangan diri kala gelap menghampiri pun, hilang tak teraba. Benar, benar kata seorang Adimas Immanuel, “Toh sebanyak apa pun temanmu, semewah apa pun tafsiranmu, hidup akan selalu soal perayaan jatuh bangkit seorang diri.”


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar