Dua Narasi Film yang Ditulis Di Tahun 2017

By titikdua - April 30, 2019

Saya seperti baru saja tertidur begitu lelap lantas bermimpi menulis dengan serius ketika mendapati kedua narasi di bawah ini. Tulisan ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Psikologi Perkembangan Peserta Didik yang telah saya lalui dua tahun lalu, 2017. Beruntung karena—rupanya—tulisan ini masih aman dalam folder dokumen, biasanya saya gampang muak melihat banyaknya file yang tidak jelas di laptop lantaran data beberapa orang teman atau adik saya yang disimpan begitu saja. Daripada memanjangkan uneg-uneg, sila check it out tulisan old saya, hehe. :D


Confucius: Esensi Moral dan Spiritual yang Impresif

Jika seorang pria tidak bisa merubah dunia, setidaknya dia berusaha merubah dirinya sendiri.kutipan Yan Hui dari gurunya, Kong Qiu

            Kong Qiu - Confucius - merupakan seorang guru spiritual yang berasal dari keluarga biasa. Eksistensinya sudah terkenal sejak lama oleh penduduk di beberapa belahan kerajaan pada era Dinasti Zhou, Cina. Tanah kelahirannya di kerajaan Lu, oleh raja Lu Dingsong—yang menjabat saat itu—Kong Qiu diangkat sebagai Menteri Hukum untuk mengisi kekosongan jabatan tugas menteri. Penolakan oleh Confucius atas tawaran menduduki posisi politik dalam negeri sempat terjadi. Hal ini menyiratkan kerendahan hati sang guru spiritual untuk tidak melibatkan dirinya dalam urusan politik duniawi yang menjemukan. Namun sang raja berusaha menawarkan kedudukan yang tidak didapatkan oleh pihak keluarga atau kerabat kerajaan terhadap Kong Qiu serta memberikan dukungan penuh padanya.
            Keteguhan hati dan kedalaman pikiran Confucius ketika diangkat menjadi menteri hukum berulang kali diuji. Termasuk ketika kerajaan Qui mengundang kerajaan Lu untuk membahas aliansi. Kong Qiu dengan strateginya yang matang, telah mengusung rencana agar kedua belah kerajaan tidak menuntaskan pertemuannya dengan pertumpahan darah. Pada akhirnya, Confucius berhasil mewujudkan hal tersebut sehingga kekerabatan antara kedua kerajaan dapat terus terjalin dengan hangat.
Menilik perkembangan moral (Santrock, 1995) yang dikutip Desmita, bahwa perkembangan moral  adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain.[1] Dalam hal ini, Kong Qiu telah mengalami perkembangan moral ketika berinteraksi dengan orang lain—yakni kepada pihak kerajaan Qiu—serta bagaimana memengaruhi dan meyakinkan lawan bicara atas signifikansi gagasannya.
Jika didasarkan pada teori perkembangan moral Kohlberg, maka Confucius berada pada tingkat ketiga yaitu “tingkat pasca konvensional”. Pada level ini, aturan dan institusi dari masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi diperlukan sebagai subjek. Kemudian salah satu bentuk orientasinya adalah dengan menjadikan kata hati sebagai kebenaran, sesuai dengan prinsip-prinsip etika universal yang bersifat abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Bollinger (1969) menggambarkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan terdalam dari diri seseorang yang apabila terpenuhi individu akan menemukan identitas dan makna hidup yang penuh arti. Sementara Booth (1992) menjelaskan bahwa spiritualitas adalah suatu sikap hidup yang memberi penekanan pada energi, pilihan kreatif dan kekuatan penuh bagi kehidupan serta menekankan pada upaya penyatuan diri dengan suatu kekuatan yang lebih besar dari individual, suatu cocreatorship dengan Tuhan. Seluruh bentuk tersebut tercermin dalam diri Confucius.
Dalam beberapa scene, Kong Qiu sebagai guru spiritual yang pernah berguru pada guru Zhu mengemukakan nilai-nilai luhur tentang makna hidup dan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan pengaktualisasian diri Confucius dalam bersosialisasi dengan masyarakat dan ditularkan kepada para muridnya yang setia dan bersahaja. Oleh karena itu, tidak sedikit pula murid Kong Qiu yang gagah-berani mempertaruhkan hidupnya untuk membela kebenaran yang hakiki secara paripurna di medan perang. Seperti ungkapan Zilu ketika tewas terbunuh, “Saat seorang pria meninggal, dia harus tetap mempertahankan harga dirinya.” Dan kata-kata Yan Hui, “Jika seorang pria tidak bisa merubah dunia, setidaknya dia berusaha merubah dirinya sendiri.”
Ada banyak dan berlipat hal-hal berharga lainnya dalam film Confucius yang sungguh impresif. Seperti etika dan estetika, seni musik, keinovatifan, tanggung jawab, kepemimpinan, kasih sayang, pengembangan pribadi, humor, kebebasan berkehendak, falsafah hidup, dan beragam hal yang luput untuk dijabarkan satu-satu dalam narasi ini. Dan hadiah terpenting yang diwariskan oleh Kong Qiu terhadap generasi selanjutnya sebelum wafat di usia 73 tahun adalah tulisan berdasarkan pengembaraannya sebelum kembali dari pengasingan kerajaan Lu tahun 484 sebelum Masehi. Bagaimana Confucius mengekalkan eksistensinya di dunia hingga saat ini dan menjadikannya tetap hidup adalah tulisan.
“Jika dunia ingin mengenalku, mereka bisa mengetahuinya melalui buku ini.” – Kong Qiu ‘Confucius’, also known by the honorary title Zhong Ni


Taare Zameen Par: Perkembangan Bahasa dan Kesenjangannya

“Every child is special.” Ungkapan ini menjadi jargon dalam film edukasi Taare Zameen Par yang berdurasi 2 jam 42 menit 23 detik. Film ini mengisahkan bagaimana bahasa memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan kognitif seorang anak. Beberapa teori yang membahas tentang perkembangan bahasa pada anak, seperti teori nativis diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau natural. Pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah diprogramkan.
            Chomsky (1974) mengatakan bahwa individu dilahirkan dengan alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Device) LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut. Berbeda dengan teori behavioristik yang dipelopori oleh B.F Skinner, yang menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya dan tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Proses perkembangan bahasa ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Dan kemampuan yang sebenarnya dalam berkomunikasi adalah dengan prinsip pertalian S-R (stimulus-respons) dan proses peniruan-peniruan.
Sedangkan dalam teori kognitif Vygotsky (1986), mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan erat dengan kebudayaan dan masyarakat tempat anak dibesarkan. Vygotsky menggunakan istilah zona perkembangan proximal (ZPD) untuk tugas-tugas yang sulit untuk dipahami sendiri oleh anak. ZPD juga memiliki batas yang lebih rendah merupakan tingkat masalah yang dipecahkan anak dan batas yang lebih tinggi merupakan tingkat tanggung jawab ekstra yang dapat diterima anak dengan bantuan orang dewasa.
Dalam periode perkembangan bahasa pada anak usia di atas 5 tahun, anak dianggap telah menguasai struktur sintaksis dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat membuat kalimat lengkap. Jadi sudah tidak terlalu banyak masalah. Namun masalah utama yang ditampilkan dalam film Taare Zameen Par adalah pada masalah lingustik Ishaan Awasthi yang berusia 9 tahun. Kesenjangan ini biasa disebut disleksia atau ketidakmampuan membaca dan menulis dengan baik atau normal. Adapun dua macam kesenjangan lain yang dihadapi oleh sang anak adalah disgrafia atau menulis dengan tidak konsisten serta diskalkulia atau kesulitan dalam berhitung.
Jika diamati, maka faktor yang paling mempengaruhi perkembangan bahasa sang anak adalah hubungan keluarga. Hubungan ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan memberikan contoh berbahasa dengan anak. Hubungan yang sehat antara orang tua dan anak memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam perkembangan bahasanya.
Hubungan yang tidak sehat bisa berupa sikap orang tua yang keras/kasar (seperti adegan yang ditampakkan dalam film), kurang kasih sayang dan kurang perhatian untuk memberikan latihan dan pembiasaan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak, maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnansi atau kelainan. Seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan.
Beruntung sebab, tokoh Ishaan dalam film tersebut dapat melalui masa tersebut dengan bantuan sang guru yakni Ram Shankar Nikumbh yang juga pernah memiliki pengalaman yang sama dengan sang anak. Melalui pendekatan atau metode khusus yang dapat meningkatkan percaya diri dan kemampuan kognitif Ishaan, Nikumbh berhasil melejitkan potensi muridnya.



[1]Dra. Desmita, M.Si., Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Cet. VI; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), h. 258

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar