So many books, so little time.
– Frank Zappa
Saya
kaget mendapati hari lahir yang tahu-tahu sudah lewat berikut jumlah bacaan
yang hanya bisa dihisab jari. Belum lagi kelalaian-kelalaian yang berhasil
lolos dalam singkat hembus napas, sekedipan mata, dalam waktu-waktu yang lari. Agenda-agenda
perbaikan yang entah bagaimana digagalkan wujudnya atau dilupa begitu saja.
Harapan yang mulai kembang, namun nihil usaha menyiram.
Menjadi
primadona di semesta sendiri memang melelahkan. Kepala yang ribut oleh bermacam
keinginan bukannya menyelamatkan justru perlahan membunuh, mencipta keruh dan
gaduh. Alih-alih bergiat dan fokus, alternatif untuk leyeh-leyeh kian menggoda.
Buku-buku jadi tak tersentuh, kedangkalan terus bertumbuh. Sementara ganjaran
agung dari firman tentang berubahnya nasib suatu kaum berdasar pada pembenahan
diri mereka sendiri, diam-diam menjauhi ingatan. Lambat laun tertinggal di
belakang.
Setiap
tahun sejak dua tahun lalu, saya mulai menargetkan bacaan yang mesti tuntas
sebelum pergantian tahun terjadi. Makin banyak tentu makin bagus. Tetapi yang
bagus belum tentu baik. Maka dari sekian bacaan yang dilahap, setidaknya ada
satu dua yang berhasil diulas. Saya membatin: tidak mesti dengan gagasan
sepenuh cerap, cukup dengan kesederhanaan kata yang membuat kamu mafhum akan
pelik hidup dan cara meredam kalut.
Entah
kenapa makin akhir semester, tugas kuliah pun membludak. Sehingga “the power
of kepepet” sungguh lekat pada kebiasaan. Rasa-rasa ingin mundur dan
berhenti sampai di sini—titik!—kadang timbul kala lelah. Begitu enteng saya
ingin menyerah lalu ringkuk di balik tameng plegmatis. Bukannya bercermin dan
menelisik kegersangan macam apa yang tengah bibit dan jalar. Saya malah memilih
menutup mata dan diri sekali lagi, kembali berkubang dalam mimpi.
Membahas
tentang prokrastinasi ini mengingatkan saya pada sebuah kutipan drama sederhana
di acara jurusan pendidikan bahasa Arab yang lontar oleh teman.
Fulanah:
“Kalo menunda setor hapalan (al-Qur’an), berarti menunda wisuda. Nah, menunda
wisuda itu sama dengan menunda menikah.”
Fulan:
“Hahaha, betul tawwa.”
Melihat
banyaknya teman berlomba-lomba mengajukan judul skripsi, ada secuil jengah dan
bayangan akan bencana yang sesungguhnya. Saya membayangkan bencana skripsi yang
ditulis Wawan Kurn dalam blognya, sumber bencana itu lahir dari mahasiswa
yang memang tak memiliki persiapan matang dan hanya mengerjakan skripsi sekadar
mencoba lulus dan mendapat gelar sarjana. Maka ketimbang terburu-buru atau coba-coba
lulus, saya berusaha menabah-kuatkan diri. Meski kadang nanar sendiri
menyaksikan pencapaian orang lain ketika mengikuti seminar proposal, meski
kadang bergidik sendiri mendengar pertanyaan: adami judulmu?, sementara
seolah-olah saya hanya terus-terusan berlari di treadmill. Tentu
ini hanya ketakutan dan kelemahan saya yang lain.
Sedemikian
koyak diri ini, bagaimana mungkin berkata bahwa sedang baik-baik saja, sedang
untuk mengevaluasi untuk kemudian membenahinya saja tak berani?



