kukira hatiku cukup lapang menerima jika sewaktu-waktu kamu
memilih seseorang sebagai kekasih. tujuan kalian sudah pasti; menghabiskan sisa
usia berdua. merawat setia. meresapi getar yang melesakkan hangat.
kalian benci dengan jarak, kan? terkutuklah ia bagi jiwa yang
senantiasa ingin berpagut.
aku termangu menatap satu gambar yang kamu posting. beberapa hari
lalu, satu badai sempat buatku cemas. dan kusangka semua kan baik-baik saja
setelah reda. rupanya hatimu telah memilih. bahkan jauh sebelum aku menatap
diriku percaya bisa menggapaimu.
kamu tak bersalah. aku hanya meratapi usahaku yang senyap untuk
menyamakan langkah. aku hanya teriris oleh angan yang kubisikkan tiap malam
sebelum aku lelap dan berharap menemuimu dalam mimpi. hatiku remuk walau kagum
ini kau tak pernah tahu.
lalu aku takut dan bingung; bagaimana aku bisa bertahan melepasmu?
tiga perempat hatiku isinya cuma kamu. segala tentangmu tumbuh rimbun dan
mengalir di darahku. sungguh. ruang untukmu kusediakan sebesar itu. jangan tanya
kenapa. aku senang memberi. kupastikan kamu terpenuhi di sini.
bisakah kamu menatap ke arahku sebentar? air mataku berhamburan.
maukah kamu mengusapnya untuk pertama dan terakhir kalinya? aku... aku… tak ada
niat berjumpa di saat seperti sekarang. aku malu, namun tak ada lagi waktu.
rantai perasaan ini akan kupangkas tanpa sisa. bolehkah kuminta pendapatmu,
keping-keping itu perlukah kusingkirkan atau baiknya kubawa sebagai kenangan
yang baru?
entah kapan perih hatiku mengering. seperti yang biasa kulakukan,
semangatku sekadar memutar lagu patah hati, demi menjauhi sepi. melodi adalah
teman yang memvalidasi sakitku.
aku tak mau membagikan ini kepada siapa-siapa. menurut mereka bisa
jadi sesuatu yang sangat konyol. aku mengalami patah hati ugal-ugalan, padahal
(sebatas) mengagumi kamu diam-diam. menjadi dewasa, mungkin, mesti
pandai-pandai menyimpan apa-apa sendiri. jadilah ini sebuah rahasia perasaan.
cukuplah begitu.
kutulis semua bersama sesak di dada. sebentar lagi aku hanyut dan tertidur dalam asin arus air mata.
