Holaaaaaaaa, blogku!
Ckck, subhanallah… tuh kan, aku
ninggalin kamu lagi. ☹ Sudah Juni, hujan jatuh nyaris setiap hari—dan aku
baru merampungkan catatan kelima. Sumpah istikamah tuh mampus bikin bonyok
alias beraaaaaatttt bgt. Kalau ada pil yang bisa bikin manusia tekun persisten,
aku mau satu deh.
Anyway, aku punya kartu ngobrol
dan tertarik menjawab pertanyaan yang ada. Buat yang pengen punya boleh gaskeun
belanja di marketplace. Kartu ini terdiri dari empat tema; hubungan, masa lalu,
kehidupan, dan diri sendiri. Sekarang aku mau menjawab pertanyaan dari tema
masa lalu. Gambar telah tersedia jadi bisa dibaca bunyinya apa.
Oke. Jawabanku adalaaaahhhh...
Jeng jeng jenggg…
Jadi gini, sebelum memutuskan
apakah kamu mau melupakan atau mengingat masa lalu, terlebih dulu kamu perlu
menerima dan memaafkannya. Hah, kenapa bisa gitu? Ya, karena menurutku,
keputusan melupa atau mengingat itu terlalu simpel. Kita barangkali belum
mencerna dengan baik apa yang terjadi di masa itu, lalu kita sudah harus
mengambil keputusan melupa atau mengingat.
Ges, gak semua masa lalu itu
menyenangkan, ya. Ada juga yang menimbulkan trauma, kesedihan yang berulang,
membangkitkan kemurkaan, memantik kekecewaan, banyaklah. Sebagai manusia (yang
berpikir), apakah kita begitu saja melupakan atau mengingat pengalaman buruk
itu? Apakah dengan kita mengeluhkan kejadian buruk yang menimpa, kita termasuk
kurang bersyukur terhadap kehidupan yang berlangsung kini-di sini?
Tidak ada hal yang terlalu remeh
untuk dirasakan. Semua valid dan punya makna. Alih-alih memangkas perasaan atas
pengalaman itu, mending kita beri ruang agar ia dapat tenang. Kita
bukakan pintu dan persilakan masuk. Biarkan ia istirahat selama yang ia mau.
Mari kita beri pelukan pada
tubuhnya yang ringkih. Kita dengarkan hati-hati napasnya yang menderu letih. Kita
usap air matanya yang memerihkan sekujur kenangan.
Biarkan ia nyaman. Izinkan ia
betah. Sebab kehadirannya bukanlah salah. Ia sungguh anugerah. Berkatnya, kita
belajar menerima rasa yang tidak melulu manis. Lagipula, hidup bukankah amat
membosankan bila hanya dikelilingi oleh kenikmatan?
Proses menerima-memaafkan ini
tampak berat sebab kita perlu merawat. Kita tidak bisa mengandalkan cara-cara
instan untuk bertahan. Ia membutuhkan dedikasi; energi yang cukup serta
keuletan. Semoga kita tidak memilih menyerah. Kendati sulit, bukan berarti tak
bisa ditaklukan, bukan?
“Ada kenangan yang tak lekang oleh waktu. Begitu pula dengan pilu. Tidaklah benar jika keduanya dianggap menodai dan menghancurkan segalanya.”
–The White Book, Han Kang
Pengalaman buruk yang seringnya
terasa seperti aib—bagaimana pun juga—tidak bisa diubah. Tidak akan pernah bisa
kita singkirkan. Dan karena ia tak meminta diperlakukan begitu, maka memang tak
perlu.
Kita masih utuh, kawan. Masih banyak
hal yang tersisa untuk melanjutkan hidup. Halaman putih yang belum kita
warnai menanti gilirannya. Oleh sebab itu, berputus asalah secukupnya, lalu ambil
kendali berteman dengan nestapa. Basuh luka itu dengan lembut, kecup
dalam-dalam kening yang memuat kepedihan tak berujung itu.
Kita baik-baik saja. Kita mampu melewati semua.
