Aku tak ingin mengatakan bahwa penolakan itu buruk, namun tentu kita semua punya kekhawatiran yang sama. Kita kerap mendudukkan harapan di baris paling depan; sejajar dengan rasa percaya, sehabis doa-doa mengarah ke langit, setelah jerih diri berupaya.
Sementara tahu-tahu takdir, sebentar lagi akan bekerja di luar seluruh harap yang telah duduk tadi. Kita luput menyisakan satu ruang lapang di dada bagi pupusnya harapan, untuk percaya yang nyatanya akan terantuk.
Meski kita tahu apa-apa yang telah diusahakan membuat kita tidak akan pernah siap menerima adanya penolakan. Ketidaksiapan–yang kutaksir–terbentuk sebab kita tidak mulai belajar untuk mengenali dan terbiasa pada hal-hal di luar harapan. Kita terbuai pada embus angan dari harapan, alih-alih memikirkan kemungkinan lenyapnya. Atau jangan-jangan, selama ini kita memang membenci penolakan dan sedapat mungkin menghindarinya?
Tapi yang kusadari dari hidup, bahwa tiap sesuatu tak cukup jika hanya satu sisi yang timbul. Sekeping koin tak akan berarti jika sisi lain yang turut menopang itu hilang. Ya, selalu ada sisi atas dan bawah, sebelah kanan dan kiri. Seimbang dan saling mendukung. Seperti penerimaan yang tentu tak berarti tanpa penolakan, pun sebaliknya.
Bersyukurlah karena penolakan akan membuatmu terpuruk sebentar saja. Niscaya menjadikanmu lebih dewasa berikutnya.



