Saya seperti baru saja
tertidur begitu lelap lantas bermimpi menulis dengan serius ketika mendapati
kedua narasi di bawah ini. Tulisan ini merupakan salah satu tugas dari mata
kuliah Psikologi Perkembangan Peserta Didik yang telah saya lalui dua tahun lalu,
2017. Beruntung karena—rupanya—tulisan ini masih aman dalam folder dokumen,
biasanya saya gampang muak melihat banyaknya file yang tidak jelas di laptop
lantaran data beberapa orang teman atau adik saya yang disimpan begitu saja.
Daripada memanjangkan uneg-uneg, sila check it out tulisan old
saya, hehe. :D
Confucius: Esensi Moral
dan Spiritual yang Impresif
“Jika
seorang pria tidak bisa merubah dunia, setidaknya dia berusaha merubah dirinya
sendiri.” – kutipan Yan Hui
dari gurunya, Kong Qiu
Kong
Qiu - Confucius - merupakan seorang guru spiritual yang berasal dari
keluarga biasa. Eksistensinya sudah terkenal sejak lama oleh penduduk di
beberapa belahan kerajaan pada era Dinasti Zhou, Cina. Tanah kelahirannya di
kerajaan Lu, oleh raja Lu Dingsong—yang menjabat saat itu—Kong Qiu diangkat
sebagai Menteri Hukum untuk mengisi kekosongan jabatan tugas menteri. Penolakan
oleh Confucius atas tawaran menduduki posisi politik dalam negeri sempat
terjadi. Hal ini menyiratkan kerendahan hati sang guru spiritual untuk tidak
melibatkan dirinya dalam urusan politik duniawi yang menjemukan. Namun sang
raja berusaha menawarkan kedudukan yang tidak didapatkan oleh pihak keluarga
atau kerabat kerajaan terhadap Kong Qiu serta memberikan dukungan penuh
padanya.
Keteguhan
hati dan kedalaman pikiran Confucius ketika diangkat menjadi menteri
hukum berulang kali diuji. Termasuk ketika kerajaan Qui mengundang kerajaan Lu
untuk membahas aliansi. Kong Qiu dengan strateginya yang matang, telah
mengusung rencana agar kedua belah kerajaan tidak menuntaskan pertemuannya
dengan pertumpahan darah. Pada akhirnya, Confucius berhasil mewujudkan
hal tersebut sehingga kekerabatan antara kedua kerajaan dapat terus terjalin
dengan hangat.
Menilik perkembangan
moral (Santrock, 1995) yang dikutip Desmita, bahwa perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan
aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam
interaksinya dengan orang lain.[1] Dalam
hal ini, Kong Qiu telah mengalami perkembangan moral ketika berinteraksi dengan
orang lain—yakni kepada pihak kerajaan Qiu—serta bagaimana memengaruhi dan
meyakinkan lawan bicara atas signifikansi gagasannya.
Jika didasarkan pada
teori perkembangan moral Kohlberg, maka Confucius berada pada tingkat
ketiga yaitu “tingkat pasca konvensional”. Pada level ini, aturan dan institusi
dari masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi diperlukan sebagai
subjek. Kemudian salah satu bentuk orientasinya adalah dengan menjadikan kata
hati sebagai kebenaran, sesuai dengan prinsip-prinsip etika universal yang bersifat
abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Bollinger (1969)
menggambarkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan terdalam dari diri
seseorang yang apabila terpenuhi individu akan menemukan identitas dan makna
hidup yang penuh arti. Sementara Booth (1992) menjelaskan bahwa spiritualitas
adalah suatu sikap hidup yang memberi penekanan pada energi, pilihan kreatif
dan kekuatan penuh bagi kehidupan serta menekankan pada upaya penyatuan diri
dengan suatu kekuatan yang lebih besar dari individual, suatu cocreatorship
dengan Tuhan. Seluruh bentuk tersebut tercermin dalam diri Confucius.
Dalam beberapa scene,
Kong Qiu sebagai guru spiritual yang pernah berguru pada guru Zhu mengemukakan
nilai-nilai luhur tentang makna hidup dan kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan
pengaktualisasian diri Confucius dalam bersosialisasi dengan masyarakat
dan ditularkan kepada para muridnya yang setia dan bersahaja. Oleh karena itu,
tidak sedikit pula murid Kong Qiu yang gagah-berani mempertaruhkan hidupnya
untuk membela kebenaran yang hakiki secara paripurna di medan perang. Seperti
ungkapan Zilu ketika tewas terbunuh, “Saat seorang pria meninggal, dia harus
tetap mempertahankan harga dirinya.” Dan kata-kata Yan Hui, “Jika
seorang pria tidak bisa merubah dunia, setidaknya dia berusaha merubah dirinya
sendiri.”
Ada banyak dan berlipat
hal-hal berharga lainnya dalam film Confucius yang sungguh impresif.
Seperti etika dan estetika, seni musik, keinovatifan, tanggung jawab,
kepemimpinan, kasih sayang, pengembangan pribadi, humor, kebebasan berkehendak,
falsafah hidup, dan beragam hal yang luput untuk dijabarkan satu-satu dalam
narasi ini. Dan hadiah terpenting yang diwariskan oleh Kong Qiu terhadap
generasi selanjutnya sebelum wafat di usia 73 tahun adalah tulisan berdasarkan
pengembaraannya sebelum kembali dari pengasingan kerajaan Lu tahun 484 sebelum
Masehi. Bagaimana Confucius mengekalkan eksistensinya di dunia hingga
saat ini dan menjadikannya tetap hidup adalah tulisan.
“Jika dunia ingin
mengenalku, mereka bisa mengetahuinya melalui buku ini.” –
Kong Qiu ‘Confucius’, also known by the honorary title Zhong Ni
Taare Zameen Par: Perkembangan Bahasa dan
Kesenjangannya
“Every
child is special.” Ungkapan ini menjadi jargon dalam film
edukasi Taare Zameen Par yang berdurasi 2 jam 42 menit 23 detik. Film ini
mengisahkan bagaimana bahasa memiliki pengaruh yang kuat terhadap perkembangan
kognitif seorang anak. Beberapa teori yang membahas tentang perkembangan bahasa
pada anak, seperti teori nativis diwakili oleh Noam Chomsky (1974). Ia
berpendapat bahwa penguasaan bahasa pada anak-anak bersifat alamiah atau
natural. Pandangan ini tidak berpendapat bahwa lingkungan punya pengaruh dalam
pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian
biologis, sejalan dengan terbukanya kemampuan lingual yang secara genetis telah
diprogramkan.
Chomsky (1974) mengatakan bahwa
individu dilahirkan dengan alat penguasaan bahasa (Language Acquisition Device)
LAD dan menemukan sendiri cara kerja bahasa tersebut. Berbeda dengan teori
behavioristik yang dipelopori oleh B.F Skinner, yang menekankan bahwa
proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu
oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Anak dianggap sebagai
penerima pasif dari tekanan lingkungannya dan tidak memiliki peranan yang aktif
di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Proses perkembangan bahasa
ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya. Dan
kemampuan yang sebenarnya dalam berkomunikasi adalah dengan prinsip pertalian
S-R (stimulus-respons) dan proses peniruan-peniruan.
Sedangkan dalam teori kognitif Vygotsky (1986),
mengemukakan bahwa perkembangan kognitif dan bahasa anak berkaitan erat dengan
kebudayaan dan masyarakat tempat anak dibesarkan. Vygotsky menggunakan istilah
zona perkembangan proximal (ZPD) untuk tugas-tugas yang sulit untuk dipahami
sendiri oleh anak. ZPD juga memiliki batas yang lebih rendah merupakan tingkat
masalah yang dipecahkan anak dan batas yang lebih tinggi merupakan tingkat
tanggung jawab ekstra yang dapat diterima anak dengan bantuan orang dewasa.
Dalam periode
perkembangan bahasa pada anak usia di atas 5 tahun, anak dianggap telah
menguasai struktur sintaksis dalam bahasa pertamanya, sehingga ia dapat membuat
kalimat lengkap. Jadi sudah tidak terlalu banyak masalah. Namun masalah utama
yang ditampilkan dalam film Taare Zameen Par adalah pada masalah lingustik
Ishaan Awasthi yang berusia 9 tahun. Kesenjangan ini biasa disebut disleksia
atau ketidakmampuan membaca dan menulis dengan baik atau normal. Adapun dua
macam kesenjangan lain yang dihadapi oleh sang anak adalah disgrafia
atau menulis dengan tidak konsisten serta diskalkulia atau kesulitan
dalam berhitung.
Jika diamati, maka
faktor yang paling mempengaruhi perkembangan bahasa sang anak adalah hubungan keluarga. Hubungan
ini dimaknai sebagai proses pengalaman berinteraksi dan berkomunikasi dengan
lingkungan keluarga, terutama dengan orang tua yang mengajar, melatih dan
memberikan contoh berbahasa dengan anak. Hubungan yang sehat antara orang tua
dan anak memfasilitasi perkembangan bahasa anak, sedangkan hubungan yang tidak
sehat mengakibatkan anak akan mengalami kesulitan atau kelambatan dalam
perkembangan bahasanya.
Hubungan
yang tidak sehat bisa berupa sikap orang tua yang keras/kasar (seperti adegan
yang ditampakkan dalam film), kurang kasih sayang dan kurang perhatian untuk
memberikan latihan dan pembiasaan contoh dalam berbahasa yang baik kepada anak,
maka perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnansi atau kelainan.
Seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata,
merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak
sopan.
Beruntung sebab, tokoh
Ishaan dalam film tersebut dapat melalui masa tersebut dengan bantuan sang guru
yakni Ram Shankar Nikumbh yang juga pernah memiliki pengalaman yang sama dengan
sang anak. Melalui pendekatan atau metode khusus yang dapat meningkatkan
percaya diri dan kemampuan kognitif Ishaan, Nikumbh berhasil melejitkan potensi
muridnya.
[1]Dra. Desmita, M.Si., Psikologi
Perkembangan Peserta Didik, (Cet. VI; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), h.
258


